Home > Uncategorized > KEYAKINAN DAN PELARIAN

KEYAKINAN DAN PELARIAN

Penghayat Keyakinan dan Pelarian Agama

OPINI | 06 June 2011 | 10:32 , KOMPAS

Seorang wanita mengaku bahwa dirinya sekarang bebas melakukan seks dengan orang yang dicintainya dan bebas tanpa beban dosa, karena menurut dia selama ini agama telah memenjarakan kebebasannya tersebut.

“saya tidak percaya lagi dengan agama!”

Demikian sebagian besar yang saya dengar tentang sebuah alasan dari orang-orang di beberapa kelompok penghayat keyakinan atau ajaran spiritual.

“Kita selama ini telah ditipu oleh agama dan para penyebar agama”

Kemudian saya searching tentang group-group spiritual dan penghayat keyakinan ini. Betapa kagetnya saya ketika yang saya baca adalah luapan emosi, umpatan, ejekan kepada agama-agama formal yang ada.

Dalam dunia psikologi yang berkaitan dengan urusan pikiran dan perasaan, ada istilah KATARSIS. Katarsis adalah mengeluarkan endapan emosi yang merupakan beban atau endapan yang selama ini ada.

Agama memang telah menjadi sebuah ajaran yang ‘kering’ dan membosankan bagi sebagian besar orang. Hal tersebut sangat beralasan karena agama saat ini juga menjadi alat politik, alat dagang, dan alat provokasi.

Ketika saya berada dalam sebuah komunitas penghayat spiritual, seseorang ‘petinggi’ dari komunitas tersebut menawarkan kepada saya,

“pak Agung sekalian ikut Sesaji saja ya.”

“Untuk apa?” Tanya saya

“Ini adalah inisiasi kami sehingga orang dapat mengenal dirinya dan alam semesta.”

“Kalau saya tidak ikut Sesaji dan hanya bergabung dalam diskusi-diskusi ini bagaimana?”

“Ya, inilah jalan untuk mengenal diri pak”

Saya tertegun! Terpana!

Wow! Bukankah ini bentuk pelarian dari agama? Sama saja, ketika dalam agama juga ada tata cara yang menyebutkan bahwa apabila tidak ikut jalan ini tidak dapat masuk surga, tidak dapat berkah, tidak dapat mengenal Tuhan, maka bentuk inisiasi dari sebuah komunitas penghayat spiritual juga sama saja.

Komunitas tersebut kemudian terlihat fanatic dan keras, seperti sebuah kelompok agama yang sebelumnya mereka kecam!

Komunitas penghayat spiritual yang mengaku bahwa hanya jalan dari kelompoknyalah yang dapat menghantarkan seseorang menemui kesejatian, adalah bentuk dari kekerasan itu sendiri.

Apabila ke-Universalan yang dipahami, bahwa Unity in Diversity, unsur spiritual tanpa pemaksaan yang sangat menghargai semua jalan, maka setiap agama dan komunitas spiritual akan bilang,

Anda bisa belajar dan menjadi Katolik dan Kristen tanpa harus dibaptis

Anda bisa belajar dan menjadi Islam tanpa harus syahadat

Anda bisa belajar dan menjadi Hindu atau Budha tanpa harus Bergama Hindu atau Budha

Anda bisa belajar dan menjadi penghayat spiritual tanpa harus ikut ritual penghayat.

Apapun yang kita sikapkan terhadap orang lain, terhadap komunitas lain, terhadap agama lain, adalah sebuah cermin tentang kematangan spiritual kita sesungguhnya.

Apakah kita tetap menjadi fanatic dan keras serta hanya mengaku bahwa jalan yang dia tempuh itulah satu-satunya jalan menuju Tuhan? Atau kita kemudian menjadi bijaksana bahwa segala macam jalan yang akan ditempuh manusia merupakan jalan pribadi dalam hubungannya dengan Tuhan?

Kemudian yang menjadi urusan kita satu sama lain adalah bagaimana menciptakan kedamaian dibumi ini sekarang dengan menyebarkan cinta kasih tanpa pamrih.

Salam cerdas Indonesia

 

Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*